Kamis, 01 Desember 2016

Pertemuan Para Superior Mayor, November 28, 2016




"Satu setengah tahun yang lalu, sejak kita berkumpul di ruangan ini”, demikian kata Pater Heiner Wilmer dalam komentar pembukaannya pada Pertemuan Para Superior Mayor. "Saya menaruh hormati pada ruangan ini; tempat ini telah mengubah hidup saya, mengubah hidup kita. "

Referensinya adalah untuk  saat  Paitel Jenderal tahun 2015, ketika Pater Heiner terpilih sebagai Superior Jenderal dari Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus.
 
Pater Jenderal SCJ
Setelah ucapan selamat datang dari Pater Jederal dan beberapa kata pengantar lainnya, Acara pagi itu diserahkan kepada Giuliana Martirani. Seorang profesor ilmu politik di University of Naples, dia juga mengajar di University of Ottawa di Kanada dan di Universitas Dubrovnik di Kroasia.

Topik-nya adalah : "Belas Kasih tinggal bersama kaum miskin dalam komunitas." Dia berbicara tentang perpecahan, tentang tembok pemisah baik dalam arti kiasan maupun nyata, bahwa orang-orang yang terpisah. Orang miskin, katanya, diperhitungkan sebagai "tak berguna" tertinggal di balik dinding pemisah itu.

Bagimana merobohkan dinding itu? "Hidup dalam semangat menerima dengan senang hati," kata Giuliana. "Elemen pertama seorang Kristen adalah untuk menyambut ... Kita harus selalu berpikir tentang 'orang lain' sebagai tamu suci."

Religius dapat memainkan peran penting dalam pemodelan ini " Spirit of Welcome," menginspirasi orang lain untuk menyambut "kemajemukan identitas" pada berbagai tingkatan.

Rencana Umum

Sore hari,  dikhususkan untuk berdiskusi tentang Program Enam Tahun Dewan Jenderal, "Mercy in the Footsteps of God." Beberapa bulan sebelum Pertemuan Superior Mayor diadakan setiap entitas diminta untuk membuat rencana tahunan sebagai tanggapan atas program kerja dewan jenderal.

"Kami ingin melihat ke masa depan dengan harapan," kata Fr. Carlos Enrique, mengutip salah satu tanggapan. "Kami ingin setiap entitas untuk melihat ke masa depan dengan harapan dalam terang realitas-nya."

Tiga Usulan

Dewan Jenderal mengulas tanggapan-tanggapan yang diberikan, seperti masukan yang didapat dari kunjungan awal dan pertemuan-pertemuan, dan mengusulkan tiga inisiatif. "Mereka mungkin berani," kata Pater Heiner, "Tapi sebagai kongregasi kita harus berani memulai."

Usulan pertama adalah untuk Program Relawan dehonian. Ini akan menjadi upaya internasional yang melibatkan kerjasama dan koordinasi dalam perekrutan dan penyertaan.  Kata Pater Heiner. "Kita tidak harus mulai dari awal. Untuk bekerja kita perlu komunikasi yang baik dan niat baik. "Program ini akan ditawarkan untuk orang dewasa muda, laki-laki dan perempuan. " Ini bisa menjadi cara yang penting bagi kita untuk berbagi spiritualitas kita dan bagaimana kita dehonian menafsirkan Injil."

Kedua,  Dewan Jenderal mengusulkan pengembangan Layanan Migran Dehonian. "Migrasi mungkin menjadi tantangan terbesar pada abad ke-20 ini," kata P. Heiner. "Ini adalah masalah seluruh dunia." P. Heiner membayangkan sebuah proyek di mana dehonian menemani migran dari kedatangan mereka di negara baru untuk pemukiman mereka. "Ini akan menjadi jalan bagi dehonian untuk benar-benar  'walk the walk’  dan tidak hanya berbicara tentang keadilan sosial.  Kita bisa berkolaborasi dengan orang lain, kongregasi lain, Gereja lokal,  organisasi JPR. "

Usulan terakhir adalah untuk Pusat Hati Ilahi  (Center of the Divine Heart). Fokus dari pusat akan menjadi studi dan promosi spiritualitas Hati Kudus, pengembangan, dan pelatihan dalam bentuk meditasi, dan akhirnya, fokus baru pada devosi kepada Hati Kudus.

Abraham adalah seperti kita


Hari pertama ditutup dengan Ekaristi. P. Heiner adalah selebran utama. Berkaca pada Injil ia mengatakan bahwa "Di satu sisi, Abraham hidup seperti kita.  
Abraham mengingatkan kita pada situasi yang kita - sebagai putra-putra Pater Leo Dehon- menemukan sangat sering dalam konteks kita sendiri: Abraham adalah seorang monoteis dalam masyarakat ‘pagan’
Banyak dari kita hidup dalam masyarakat di mana sekularisme dan atheisme berkembang pesat. Bahkan beberapa dari kita hidup dalam masyarakat di mana orang-orang Kristen terancam dan teraniaya.

Abraham mengajak kita untuk melakukan seperti yang dia lakukan: mewartakan nama Tuhan di mana pun ia pergi. Abraham melihat dirinya dipanggil Tuhan untuk bermisi. Rasanya, bahwa tujuan dari tanaman yang dia tanam, yaitu belukar, adalah untuk memberikan keramahan bagi wisatawan dan para migran dan untuk menyebarkan keyakinannya pada Allah di seluruh dunia ‘pagan’ kuno.


foto-foto bisa Anda lihat di:

Rabu, 12 Oktober 2016

Misa Requiem dan Pemakaman Rm. FX. Harimurtono SCJ


Rabu, 12 Oktober 2016 suana mendung namun udara terasa panas dan gerah, seakan alam pun ikut berduka melihat kepergian sang gembala yang gemar bercerita. Namun begitu. udara yang cukup panas tidak menyurutkan antusiasme umat dan para sahabat Rm. FX. Harimurtono SCJ yang pada hari ini dimakamkan.

Tepat pukul 10.00 WIB perayaan Ekaristi Requiem untuk melepas kepergian Rm. Harimurtono SCJ dimulai. Kata sambutan diberikan oleh Rm. Superior Wilayah Palembang, Rm. Agus Setyoaji SCJ dan dilanjutkan dengan pembacaan riwayat singkat oleh Rm. FX. Budiharyono SCJ. Misa Requiem kali ini dipimpin oleh Rm. Vikjen Keuskupan Agung Palembang, Rm. Felix Astono SCJ.

Setelah misa Requiem selesai, jenazah Rm. Harimurtono SCJ dibawa ke Pemakaman Biara Taman Getsmani di kompleks RS RK Charitas Palembang. Upacara pemakaman dipimpin oleh Pater Propinsial SCJ, Rm. Alexander sapta Dwi Handoko SCJ.

Selamat Jalan Rm. Harimurtono SCJ, selamat menikmati perjamuan abadi di Surga. Doakan kami yang masih berjuang di dunia ini.


foto-foto lengkap bisa Anda lihat di: 

Senin, 10 Oktober 2016

RIP. Rm. FX. Harimurtono SCJ


Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus Palembang

Ego sum resurrectio et vita. Qui credit in me, etsi mortuus fuerit, vivet (Io 11,25)
"Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya  kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati"
(Yohanes 11: 25)

Pada Hari Senin,  10 Oktober 2016, pukul 07.15
di Palembang
, Indonesia
Tuhan telah memanggil di rumahNya,
Konfrater kami yang terkasih

Rm. FX. Harimurtono SCJ
Lahir: Yogyakarta, 08-04-1938
Kaul I: Gisting, 08-12-1967
Kaul Kekal: Yogyakarta, 08-10-1974
Tahbisan:  Yogyakarta. 03-12-1974


Misa Requiem dan Pemakaman

Hari Rabu, 12 Oktober 2016
di Kapel Seminari St. Paulus Palembang
Pukul 10.00 WIB
Pemakaman di Makam Biara Taman Getsmani Charitas Pusat

R.I.P.


Palembang, 10 Oktober 2016


 Pater Propinsial SCJ Indonesia

Kamis, 22 September 2016

RIP. Rm. Nicolaus Van Steekelenburg SCJ


Misa Requiem Pater Nicolaus van Steekelenburg SCJ Misionaris dari Belanda di Indonesia. Wafat di Nijmegen Nederlan, 31 Agustus 2016. Di Makamkan di Makam Biara di Nijmegen Nederlan tanggal 06 September 2016. Misa Arwah untuk Pater Nico SCJ juga diselenggarakan di Gereja Hati Kudus Yesus Palembang tanggal 07 September 2016 dengan konselebran utama Mgr. Al. Sudarso SCJ.
Di bawah ini sharing yang dituliskan oleh  Br. Vincen Dalijan SCJ dari Roma yang menghadiri pemakaman Rm. Nico SCJ di Nijmegen Nederlan.

SANG MISIONARIS SEJATI PERGI DENGAN SENYUM


Hari Senin siang sampai di komunitas Nijmegen, saya langsung menuju ke sebuah ruangan kecil, dimana padre Nicolaus Arnoldus Carolus van Steekelenburg SCJ di baringkan. Aku terdiam memanjatkan doa dalam hati beberapa saat. Di ruang kecil dan dingin tersebut padre Nico hanya ditemani oleh 4 lilin yang bernyala, beberapa karangan bunga serta diatas petinya tertata rapi sebuah piala, stola dan salip kebangkitan. Beberapa kali ku sempatkan menemani dalam keheningan disamping peti padre Nico sampai menjelang misa arwah dimulai. “Dikau adalah misionaris sejati padre Nico, pantaslah bahwa dirimu selalu merindukan tanah misi Indonesia.” Pastilah padre Nico dengan senyumnya yang manis, bersatu dalam surga abadi bersama para kudus di surga.

Hari Selasa, mulai pukul 14.00, sudah banyak para konfrater SCJ, kenalan, kelompok / paguyuban keluarga misionaris dan keluarga besar padre Nico telah datang, bahkan ada beberapa teman dan kenalan padre Nico, juga hadir yang fasih berbahasa Indonesia. Dalam obrolan sambil minum kopi dan teh hangat sebelum misa kudus,  nama padre Nico menjadi buah pembicaraan. Secara khusus mereka menceritakan pengalamannya waktu bertemu dan membantu padre Nico saat menjadi gembala umat di Bengkulu. Banyak kenangan suka cita dari teman-teman padre Nico, yaitu saat ikut berkunjung bersama padre Nico dalam pelayanan ke daerah-daerah di wilayah Bengkulu.
Tepat pukul 14:30 perayaan misa dimulai, diawali dengan prosesi peti serta para selebran menuju ke kapel komunitas SCJ di Nijmegen. Kapel komunitas penuh, selain itu juga ruangan di dekat kapel komunitas juga terpakai walaupu tidak penuh. Di luar kapel komunitas di pasang sebuah monitor besar supaya para rekan dan kenalan padre Nico yang hadir saat misa kudus di luar kapel bisa mengikuti jalannya perayaan ekaristi seperti di dalam kapel. Cukup lumayan banyak yang hadir sekitar 150 orang, yang terdiri dari para konfrater, kenalan, kelompok keluarga misionari dan keluarga besar dari padre Nico. Selain itu hadir juga 2 suster FSGM Indonesia dari Denekamp. Hadir pula seorang ibu  ( awam ) yang mewakili dari para suster Charitas di Rosendal serta dua keluarga yang asalnya dari Baturaja namun sudah menetap di Belanda. Perayaan ekaristi dipimpin oleh padre W Halters ( rektor komunitas Nijmegen ). Dalam kata pembukaannya padre Halters intinya mengatakan “ selamat datang kepada para hadirin semua dari berbagai tempat yang tentunya mencitai dan mengenal padre Nico. Kita semua menyatukan doa serta menghantar padre Nico ke peristirahatan yang terakhir. Kita semua merasa kehilangan, terutama keluarga besar serta secara khusus provinsi SCJ Indonesia yang sangat mencitai padre Nico. Dalam memimpin misa padre W. Halter didampingi oleh padre J de Rooij ( provinsial Belanda ), padre G.Zwaard dan padre H. Baart.
Padre G. Zwaard dalam homolinya menekan “ Sakit ataupun kematian pastilah tidak akan mau alami bagi setiap orang. Demikian juga padre Nico. Namun padre Nico sewaktu mengalami sakit tidak pernah tampak mengeluh, dia hanya merasa tidak ada tenaga dan gampang capek atau kelelahan. Bahkan dihari-hari yang sangat sulit, dimana padre Nico tidak bisa makan lagi, beliau tidak mau dipasang infus, bahkan asupan makanan yang dimasukan melalui selang. Beliau sudah pasrah dihadapan Tuhan. Selain itu padre G. Zwaard juga mensharingkan kegigihan padre Nico dalam pelayananan selama masaperutusan yang dipercayakan melalui provinsi kepadanya. Mulai dari Baturaja, Bengkulu, rektor Palembang, ekonom keuskupan Agung Palembang serta pelayanan untuk orang sakit di rumah sakit Charitas Palembang. Dalam pelayanannya bagi orang sakit di Charitas Palembang beliau jalanan dengan suka cita untuk menjumpai kepada siapa saja yang membutuhkan uluran kasih. Beliau melayani secara total untuk orang sakit bahkan pada masa sakitnya sendiri, padre Nico masih berusaha untuk melayani. Selain itu padre Zwaard juga menceritakan pengalaman padre Nico saat bertugas di Bengkulu. Kata padre Zwaard, “ Padre Nico benar-benar mengalami sebagai misionaris selama bertugas di Bengkulu “. Beliau mengunjungi atau pelayanan ke stasi-stasi kecil bisa 4-5 hari. Beliau bangga karena Bengkulu berkembang dan tumbuh pesat umatnya. Bahkan benih-benih panggilan juga tumbuh dari Bengkulu, banyak yang menjadi biarawan biarawati dan juga imam. Bahkah diperkuat juga atas sharing dari adiknya padre Nico, yang menceritakan pengalamannya di Bengkulu, dan padre Nico ternyata menulis sebuah buku tentang pelanyanannya selama tugas Bengkulu dan dibukukan oleh keluarganya dalam bahasa Belanda. Ini semua atas penyertaan Roh Kudus.
Setelah perayaan ekaristi selesai, selanjutnya diadakan prosesi ke makan SCJ yang dipimpin oleh padre J de Rooij ( provinsial Belanda ). Di pemakaman tidak begitu banyak yang hadir, sebagian mereka tinggal di komunitas SCJ Nijmegen. Padre Nico selamat jalan. Doakan kami para konfratermu yang masih berziarah dalam perutusan dimanapun berada. Jasamu besar dan selalu dikenang di keuskupan Agung Palembang. Selamat jalan, doa kami menyertai dalam perjalananmu  menuju ke rumah Bapa di Surga.


  Oleh. Br. V. Dalijan SCJ dari Roma Italia



foto-foto bisa Anda lihat di: RIP Rm. Nico SCJ

Pesta Emas Hidup Membiara Mgr. Aloysius Sudarso SCJ


Lima puluh tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Lima puluh tahun merupakan perjalanan yang panjang dan penuh liku. Lima puluh tahun mampu menempa seseorang menjadi lebih bijaksana dan matang dalam kehidupan. Secara khusus,Bapa Uskup Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ telah menempuh perjalanan yang penjang sebagai seorang biarawan SCJ,perjalanan 50 tahun hidup membiara, PESTA EMAS HIDUP MEMBIARA. Tepatnya tanggal 15 Agustus 1966 yang lalu, Mgr. Sudarso Mengikhrarkan Kaul-Kual Hidup membiara dalam Kongregasi Imam-Imam hati Kudus Yesus.


Perayaan syukur 50 tahun hidup membiara Mgr. Al. Sudarso SCj dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2016 di Seminari St. Paulus Palembang. 
 
Mgr. Sudarso dalam kesempatan kotbahnya mensharingkan pengalamannya dalam mengarungi panggilan sebagai Biarawan. Beliau bersyukur atas teladan yang diberikan oleh orang tua beliau yang membentuknya menjadi seperti sekarang. Mendidik menjadi manusia yang sederhana. Anak ke dua dari depalan bersaudara ini merasa bersyukur dan bangga dilahirkan sebagai anak yang kedua.  Sifat kedua orangtua membentuk hidup Mgr. Sudarso, sederhana, suka humor, rapi, kalem, suka mendengarkan orang lain, tekun, setia, dan religius, begitu yang disahringkan oleh Mgr. Sudarso.


Banyak pengalaman-pengalaman sederhana yang disharingkan oleh Mgr. Sudarso, yang dimaknai beliau sebagai pengalaman yang berharga yang membantunya untuk memilih jalan hidup sebagai biarawan. Tidak mudah bagi beliau untuk memilih panggilan hidup, tapi Mgr. Sudarso merasa bahwa Tuhan telah menuntunnya untuk menjadi biarawan, maka beliau memutuskan untuk bergabung dalam Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ). 

Mgr. Sudarso dalam renungannya menyampaikan penghayatannya dalam menghayati kaul hidup membiara. Penghayatan nasehat-nasehat injil bukan hanya berlaku bagi para biarawan tetapi juga bagi keluarga. Misalnya dalam kaul ketaatan, menghayati kehendak Tuhan yang dihayati dalam komunitas. Keluarga juga harus senantiasa menemukan kehendak Tuhan dalam keluarga. Tuhan menjadi dasar ketaaatan hidup kita. Dalam kaul kemurnian, tujuan utama kaul kemurnian adalah persatuan dengan Allah sepenuhnya dengan tidak menikah sehingga Allah menjadi utama dalam hidup. Dalam keluarga juga sama, kasih utama adalah kepada Allah, dan menjadikan Allah yang utama dalam keluarga dengan menjaga kemurnian dan kesetiaan dalam keluarga. Kaul kemiskinan, dalam hidup membiara tidak ada harta pribadi, tidak boleh posesif terhadap harta benda, demikian juga dalam keluarga, tidak boleh posesif ingin memiliki segala sesuatu. Misalnya posesif terhadap anak.


Menjalani hidup harus penuh suka cita, demikian yang disampaikan oleh Mgr. Sudarso. Apakah ada suka cita dalam memilih hidup membiara, sebagai imam, sebagai keluarga. Kita juga harus menunjukkan kasih Tuhan bagi sesama. Sebab kita adalah sahabat Allah, menjadi partner kerja Tuhan. Sebagai sahabat kita harus saling mengingatkan. Setelah 50 tahun menghayati hidup membiara, Mgr. Sudarsao mengalami bahwa spritualitas Hati Kudus Yesus yang dihayati ternyata hanya pintu masuk menuju spirtualitas Tuhan Yesus yang begitu besar. Beliau bertemu dengan kekayaan Tuhan yang begitu besar, dan bertemu dengan aneka macam penghayatan kepada Tuhan. terlebih tugasnya sekarang sebagai Uskup beliau harus bisa merangkul bermacam-macam aneka penghayatan kepada Tuhan yang memiliki kekayaan yang luas. 

Pada kesempatan ini, Mgr. Sudarso menghaturkan syukur dan terima kasih, atas kesetiaan Tuhan selama ini, atas doa-doa para Imam, biarawan-biarawati, dan seluruh umat, secara khususnya saat sakit. Mgr. Sudarso juga berharap agar apa yang beliau alami tidak berubah, semoga tetap menjadi sederhana, dan berharap agar senantiasa diingatkan dalam tugas-tugasnya.


foto-foto bisa dilihat di: Pesta Emas Membiara Mgr. Al. Sudarso SCJ