Senin, 28 Maret 2011

Romo Bhakti kembali kerumah Bapa di surga


Romo Bhakti  telah kembali ke rumah Bapa pada 23 maret 2011 .

Rm. Thomas Bhakti Dwi Prabowo SCJ, dengan nama kecil Tukimin, lahir di Boro, Yogyakarta 3 Desember 1948 dari pasangan Bapak Ibu Pawirodikromo yang pindah dari Boro ke Metro Lampung.
Bagi RmBhakti, cita-cita untuk menjadi imam sudah ada sejak kecil, yang terlihat dalam keaktifannya di paroki baik ketika masih di Boro terlebih setelah keluarganya pindah di Metro. Dan keinginan menjadi imam ini ia mulai dengan memasuki Seminari Menengah St. Paulus Palembang tahun 1965.
"Sederhana tetapi meyakinkan". Kata-kata ini telah disandang olehnya ketika pertama kali menjadi anggota SCJ yang dinyatakan oleh pembimbingnya. (Alm) Romo.Ig.Cipta Har­saya SCJ serta anggota dewan waktu itu yang menilai kelayakannya untuk menjadi frater SCJ.

13-10-1975 ketika bertugas di Bandarjaya sebagai frater yang sedang menjalani masa orientasi pastoral, mengajukan permohonan untuk mengucapkan kaul pertama dalam serikat Imam Imam Hati Kudus dan permohonan tersebut dikabulkan den terlaksana pada tgl. 30 Januari 1976
Seperti dikatakan Rm.Ciptaharsaya (alm): "Bhakti sungguh memenuhi harapan dan kami puas dengan pekerjaannya. Tertib dan suka membuka diri dan mengemukakan persoalan yang dihadapi, setia dan sederhana tapi meyakinkan", kesederhanaan inilah pertarna kali terlihat  bile berjumpa dengannya dan yang selalu nyata sampai akhir hidupnya.

Romo yang sejak kecil mempunyai hoby berkebun ini pernah menjadi guru di sebuah SPG dan sangat perhatian kepada siapa saja tanpa pilih-pilih.
11-1978 menjalani pastoral akhir di Kotagaiah dan setelah tahbisan 16 Juni 1979 be­liau dibenum di Paroki St.Paulus Kotagajah. Ditempat ini karena melihat kondisi gedung gereja sangat memprihatinkan, beliau berusaha sekuat tenaga untuk membangun gereja yang baru. Dana yang diharapkan dari keuskupan separuhnya. selebihnya supaya berusaha sendiri den akhirnya berdirilah gereja yang megah walaupun sempat terbeng­kalai karena menunggu dana. Di tempat ini juga beliau mendirikan sarana pendidikan dengan nama. Yayasan Yos Sudarso / SMP Yos Sudarso Karena sekolahan yang ada di samping gereja kurang diminati oleh masyarakat karena masyarakatnya fanatik, maka akhirnya diusahakan di tempat lain yang agar jauh dari lokasi gereja, untuk menarik masyarakat setempat yang mau sekolah dan sedikit-demi sedikit rasa kefanatikan berkurang dan nilai-nilai kekatolikan bisa tertanamkan kepada masyarakat walaupun tidak harus dipermandikan.

01-01-198 pindah tugas sebagai pastor paroki St.Pius X Gisting. Selama di Gisting, beliau juga banyak melaksanakan pembangunan dan rehab gereja. antara lain rehab gereja stasi Sumber Rejo di Desa Tegal Binangun Talang Padang. Gereja yang sudah tua dan parah, banyak bocor, dinding gedek sudah rapuh, disana-sini sudah berlubang. Rehab ini semula dilaksanakan secara gotong royong oleh umat stasi, tetapi karena keterbatasan dan kemampuan umat akhirnya mengajukaan bantuan ke luarnegeri melalui propinsi. Dan juga ikut serta dalarn rehab rumah novisiat St. Yohanes.

3 Pebruari 1987 membeli tanah di Batukeramat untuk SCJ. Tertarik karena pemandangan alam yang indah, sebelah selatan bisa memandang Laut dan ke barat memandang Gunung Tanggamus yang megah, bahkan di bawah ada air terjun, tanah 2 hektar sekelilingnya sudah punya orang kota. Tahun 1980 membuka proyek tangkil di tanah scj Propan.

01-05-1991 pindah tugas di Paroki St.Lidwina Bandarjaya. Karena kesederhanaannya, beliau dengan mudah diterima oleh siapa saja dan kalangan manapun juga.

06.1994 pindah tugas di Paroki St.Theresia Jambi, Pastor kepala paroki dan ketika mau dipindahkan dari Jambi, umat Jambi nggondeli, memohon penundaan pemindahannya, alasannya katanya umat baru merasakan proses adaptasi, program­ program paroki baru akan dilaksanakan, telah tercipta keharmonisan dalam mekanisme kerja antara dewan paroki, keberadaan beliau sudah diterima umat. kondisi nya sedang diharapkan demi memajukan umat.

02-1997 pindah di Paroki St.Maria Gumawang Belitang.
31-07-2001 Mendapat kesempatan untuk menjalani tahun sabat, tetapi beliau tidak mau menjalaninya di Luar negeri, tetapi di Curup dan Yogyakarta. Dan selesai tahun sabatikal ingin segera kembali ke pelayanan di paroki; sesuai motto tahbisan "berasal dari umat kembali ke umat". Bagi beliau melayani umat merupakan sikap dasar dan kerinduan untuk merealisasikan panggilan; pelayanan paroki lebih membantu menyehatkan badan; kesaksian umat butuh keteladanan, kedekatan antara gembala dan umat.

28-10-2002 pindah sebagai Pastor Paroki St.Yohanes Penginjil di Bengkulu dan sejak 27 Agustus 2003 diangkat sebagai Superior SCJ Wilayah Barat.

01-09-2004 pindah Tinggal di Pondok Kristofel Jambi masih sebagai Superior SCJ Wilayah Barat dan ketika ada krisis tenaga di Paroki St.Maria Tugumulyo Mura tahun 2005, beliau ditarik ke sana untuk mengisi kekosongan sebagai pastor paroki.

01 Juni 2005 diangkat sebagai Koordinator Sekolah Xaverius Tugumulya. 27 Jun; 2006 dibebaskan dari tugas sebagai Superior SCJ Wilayah Barat tetapi diangkat sebagai Ekonom SCJ  wilayah Barat.

27-07-2007 Rm.Bhakti dipindah tugas ke Tulangbawang Lampung sebagai pastor paroki.

15-09-2010 Pindah tugas di Paroki Hati Kudus Palembang.
Sejak Januari 2011, beliau mulai mengeluh dengan penyakitnya yang telah lama ia derita selama ini yaitu jantung, gula darah dan darah tinggi.

Karena penyakit-penyakit ini maka tgl. 24 Januari 2011 malam beliau masuk rumah sakit Charitas Palembang dan akhirnya pada hari rabu 23 Maret 2011 dini hari pkl.03.00 beiiau menghembuskan : nafasnya yang tera­khir dengan tenang dengan didampingi oleh para konfraternya.

Selamat jalan Romo

Senin, 21 Februari 2011

Temu FKPA Regio DIY-Jateng

Tumbuhkan Keakraban di antara Para Anak Panti Asuhan

Sabtu-Minggu (12-13 Februari 2011) Skolastikat SCJ Yogyakarta dipenuhi oleh anak-anak panti asuhan yang berada di region DIY-Jateng. Mereka mengadakan pertemuan rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Forum Kerjasama Panti Asuhan (FKPA) Regio DIY-Jateng. Kegiatan ini diikuti oleh 204 anak dari 16 panti asuhan yang ada di region DIY-Jateng.
Keenambelas panti yang mengikuti pertemuan tersebut adalah: PA Pangrekso Dalem Temanggung, PA St. Maria Ganjuran, PA Marganingsih Lasem, PA Brayat Pinuji Boro, PA Panti Rini Purworejo, PA St. Thomas Ungaran, PA Karuna Putri Solo, PA Karuna Putra Solo, PA Sancta Maria Boro, PA SOS Desa Taruna Banyumanik Semarang, PA St. Thomas Ngawen, PA Taman Bina Anak Bangsa Gunung Kidul, PA RSPA Anak Bangsa YSS Semarang, LPATR Don Bosco Wonosobo, Hellen Keller Yogyakarta, dan SLB Dana Upakara Wonosobo.
Pertemuan ini mengangkat tema “Berjumpa, Bersyukur, Bertumbuh.” Para frater dilibatkan menjadi tim animator sekaligus panitia pertemuan. Aula Skolastikat SCJ dan beberapa ruangan lain dipakai untuk pertemuan ini, khususnya sebagai tempat menginap para peserta. Karena terbatasnya ruangan untuk menginap, garasi sepeda para frater pun ‘disulap’ menjadi ruangan untuk menginap para peserta.
Pertemuan dibuka dengan perayaan Ekaristi di kapel Skolastikat SCJ yang dipimpin oleh Mgr Johannes Pujasumarta, Uskup Agung Semarang. Dalam Ekaristi itu, Bapa Uskup didampingi oleh Rm Luhur Pribadi Pr (Moderator FKPA KAS), Rm Juliwan SCJ (Rektor Skolastikat SCJ), Rm Markus SCJ dan Rm Susanto SCJ (Staf Skolastikat SCJ).
Dalam homilinya, Bapa Uskup menyatakan rasa syukurnya atas keterlibatan Gereja Katolik dalam berbagai macam kegiatan sosial. Panti Asuhan sebagai salah satu bentuk keterlibatan sosial Gereja diharapkan akan semakin dapat menumbuhkan semangat Kristiani dalam diri anak-anak yang ada di dalamnya. “Walaupun tidak semua anak asuh beragama Katolik, namun mereka juga diharapkan bisa berkembang dalam berbagai macam keutamaan,” tegas Mgr Puja.
Suasana keakraban dan kegembiraan nampak dalam diri para peserta pertemuan, terlebih pada saat acara pentas seni yang dilakukan di aula Skolastikat SCJ. Setiap panti asuhan menampilkan atraksi dan kreativitasnya. Pagi harinya, suasana menjadi semakin nampak akrab pada saat para peserta melakukan outbond yang dipandu oleh para frater SCJ. Ada berbagai macam permainan yang dilaksanakan dalam outbond di lingkungan Skolastikat SCJ dan wilayah Klaseman-Sengkan. Melalui berbagai permainan tersebut anak-anak diharapkan semakin saling mengenal satu sama lain dan pada akhirnya mampu saling bekerjasama di antara mereka.
Sementara itu, Sr Yovina OSF, Koordinator FKPA Regio DIY-Jateng berharap agar pertemuan ini juga bisa menjadi tempat bagi para peserta untuk mensyukuri hidup mereka sebagai anak-anak Allah. Ia juga berharap agar acara ini juga semakin mengembangkan tanggungjawab dan kerjasama di antara anak didik Panti Asuhan. (fr st sigit p scj)

Kamis, 17 Februari 2011

Romo Roosman SCJ telah meninggal dunia 15 februari 2011

Romo Husodokaryo, si penjual es itu telah tiada. Beliau di panggil Allah Bapa disurga 15 februari 2011 di RS. Myria RRGN Km.7 Palembang.

Roosman lahir di Metro pada 7 Maret 1942 merupakan putra bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Zacharias Saring Karyadinama dan Elizabeth Wantinem, pada waktu itu beralamat di Tempuran No.15b Metro. Sehari sesudah kelahirannya, yaitu tanggal 8 Maret 1942 Roosman kecil dipermandikan di Paroki Hati Kudus Yesus Metro oleh Pastor Boeren SCJ dengan mengambil nama pelindung Santo Stanislaus.

Ketika berusia 11 tahun, tepatnya pada 8 Oktober 1953, di gereja yang sama yaitu paroki Hati Kudus Yesus Metro 8 Oktober 1953 Roosman menerima Sakramen Penguatan.

Pagi sekolah, sore hari sepulang sekolah berjualan es di pasar di sekitar rumahnya, itulah yang ia jalankan selama menimba ilmu sekedar untuk meringankan biaya sekolah sehingga bisa lulus SR Xaverius Metro tahun 1955.

Cita-cita untuk menjadi pastor sudah sejak kecil dan keinginannya itu ia nyatakan dengan melanjutkan pendidikan ke Seminari Santo Paulus tahun 1955 sampai tahun 1962 dan selama pendidikan di Seminari Santo Paulus Palembang mendapat ijasah SMP Negri tahun 1958 dan ijazah SMA Negri tahun 1962.

8 Maret 1961 ketika masih di Seminari Menengah St.Paulus Palembang, ia mengajukan permohonan kepada pater Propinsial “untuk ikut serta memasuki Biara Imam Serikat Hati Kudus yang mana sesuai dengan hasrat dan tjita-tjita panggilanku untuk menjadi Imam ala Conggregatio SCJ”. Permohonan tersebut dikabulkan dan menjalani masa postulat 08-07-1961 dan masa Novisiat 07-09-1961 di Novisiat St.Yohanes Gisting. Kebiasaan menambah nama dan mengganti nama ketika memasuki biara juga ia ikuti juga, yaitu dengan menambah nama Husodokaryo dan mengambil nama biara Alphonsus de Ligouri.

Masa pembinaan di Novisiat diakhiri mengikrarkan kaul pertama pada 08-09-1962 dan melanjutkan studi filsafat dan teologi di Yogyakarta.

Ketika masa pendidikan di Yogyakarta, pada tahun 1965 an dalam situasi tanah air yang tidak menentu, para frater juga mendapatkan tugas giliran ronda malam. Sehingga para frater selain siap siaga dalam hal studi, doa serta ulah sempurna juga tidak lupa ikut mengintegrasikan tenaga alakadarnya kepada masyarakat termasuk juga Frater Roosman.

08-09-1966 di Skolastikat SCJ Yogyakarta mengikrarkan kaul kekal dilanjutkan dengan pelantikan Lektor Akolit oleh Kardinal Darmoyuwono Pr, sedangkan tahbisan diakon ia terima pada 25-08-1971 di Tanjungkarang oleh Mgr.A. Hermelink Gentiaras SCJ

Frater dengan nama lengkap Stanislaus Roosman Husodokaryo SCJ ini ditahbiskan menjadi imam pada 03-12-1971 di Gereja Hati Kudus Yesus Metro oleh Mgr.A.Hermelink Gentiaras SCJ
Semasa hidupnya Romo Roosman, pernah berkarya dalam berbagai bidang karya, antara lain:

01-01-1972  menjadi Guru Seminari menengah St.Paulus Palembang
01-12-1972  melayani stasi-stasi di Paroki Kabar Gembira Kotabumi
01-11-1977  melayani stasi-stasi di Paroki Kristus Raja Tanjungkarang
01-02-1980  melayani stasi-stasi di Paroki St.Paulus Kotagajah
01-04-1980  mendapat kesempatan untuk studi di Roma bersama dengan mengambil    
                 kursus-kursus yang dilaksanakan di Angelicum Universita S.Tomaso Roma
01-10-1981  kembali ke tanah air  selesai studi mendapat tugas baru sebagai Pastor     
                 kepala paroki St.Yusup Pringsewu dan diangkat sebagai Koordinator 
                 Pankat, Panlit dan PanKKS (Komisi Kateketik, Liturgi dan Kitab Suci) keuskupan
25-07-1986  Pindah tugas ke Sidomulyo sebagai pastor paroki
12-01-1988  pindah tugas ke Paroki St.Maria Tugumulyo Musirawas dan menjalankan  
                 tugas pelayanan penyuluhan, bimbingan dan pembinaan kerohanian 
                 keagamaan umat katolik di Kabupaten Musi Rawas khususnya di tempat-
                 tempat transmigran.
30.07.1992  Pindah tugas dari Tugumulyo ke Paroki Hati Kudus Palembang sebagai
                 pastor pembantu dengan tugas lain mengajar Agama di UNSRI dan mengajar
                 bahasa Latin di seminari st Paulus
23-01-1995  Sebagai Pastor Kepala Paroki St.Maria Ratu Rosario Seberang Ulu
05-09-2004  Rumah Damai Dehon dengan tugas pastoral kategorial dan melanjutkan  
                 tugasnya sebagai dosen MDP, mengajar di Seminari dan Ekumene serta
                 Forum Komunikasi antar Umat Beragama.

Tugas ini ia jalankan sampai akhir hidupnya 15 Februari 2011. Selamat jalan Romo Roosman.

Selasa, 01 Februari 2011

Sharing Pengalaman dan Harapan akan Misi SCJ Indonesia

“Embrio Misi: Kilas Balik Pengalaman dan Harapan”

Dalam kesempatan assembly yang lalu (26 Januari 2011), Rm. Agustinus Agus Suyono mendapat kesempatan untuk membagikan pengalamannya selama dia berada di Taiwan, dan menyampaikan harapannya berkaitan dengan rencana pembukaan misi SCJ Indonesia di Taiwan. Berikut adalah sharingnya dalam bentuk tulisan:

“Mgr John Baptist Lee (李克勉主教) – Uskup Hsinchu, Taiwan - pernah mengingatkan para imam dalam salah satu kotbahnya, ”Hendaknya kalian bertutur-kata layaknya seorang imam, berpakaian layaknya seorang imam, dan berperilaku layaknya seorang imam. Ketiga hal ini akan menjaga hidupmu sendiri dan menjadi berkat yang hidup bagi umat yang berada di sekitarmu.” Petikan kotbah ini sangat membekas dalam hati saya, dan saya akui sangat berguna bagi imamat saya dalam pengembaraan di Taiwan seorang diri selama 4 tahun.

Kesaksian yang hidup adalah kesaksian tutur-kata, pakaian, dan perilaku yang utuh sesuai dengan cara hidup religius. Saya juga sadar, tidak ada yang mudah untuk seorang pioneer, tapi saya tidak merasa kecil hati meski kadang terasa lelah, mengingatkan diri sendiri untuk tidak menyerah meski hari-hari berlalu dengan sangat lambat. Semua ini membahagiakan karena saya telah melaksanakan dengan rela hati, dan mengusahakan beragam kondisi yang memaksimalkan tanggung jawab perutusan pribadi dan memberi keuntungan bagi arah pelayanan kongregasi di masa depan.

Bermisi itu suatu kehormatan, juga ketika kita merasa berada dalam posisi yang tidak mungkin untuk itu. Saya juga belajar dan terinspirasi oleh keberanian para misionaris SCJ Belanda di Indonesia yang melewatkan banyak tahun dalam kesulitan fisik, juga dengan pengalaman para misionaris domestik di berbagai tempat dengan tantangan yang khas. Mereka telah menuntaskan jawaban kebutuhan Gereja pada zamannya. Semoga saya bisa menjawab kebutuhan Gereja zaman ini, dan bukan Gereja yang harus menjawab kebutuhan saya; semoga saya bisa menjawab kebutuhan kongregasi, dan bukan kongregasi yang harus menjawab kebutuhan saya.”

巨港,2011年01月26日
蘇約諾神父 [Su Yue Nuo Shen Fu] 

-------------------

“Perutusan South Dakota”

Pada kesempatan yang sama, Rm. Christianus Hendrick juga membagikan pengalamannya sebagai misionaris di Amerika Serikat di tengah orang-orang Indian:

Misi South Dakota ini adalah misi kita bersama, itulah sepotong keyakinan yang saya bawa ketika saya mengatakan ‘YA’ dan memulai misi yang ‘aneh’ ini. Aneh, karena memang kenyataannya rencana dan kehendak Tuhan selalu sulit ditebak. Dan memang rencanaNya sering bukan untuk dimengerti, tetapi untuk diikuti dengan penuh kesetiaan.

Benar bahwa saya adalah orang Indonesia yang pertama yang diutus mengawali perjalanan misi South Dakota ini. Tetapi saya yakin juga bahwa saya bukanlah orang yang terakhir dalam perutusan ini, terbukti SCJ propinsi Indonesia segera mengirim teman berikutnya untuk bersama-sama menjalankan misi perutusan di antara orang-orang Indian ini. Itulah yang memperkuat keyakinan saya bahwa memang ini adalah misi kita bersama, tanggungjawab kita bersama dan perwujudan kepedulian kita bersama akan pelayanan-pelayanan gereja yang mendunia.

Tentu saja dalam kenyataannya keyakinan akan misi bersama ini harus berhadapan dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah. Suasana penghayatan karya misi yang berbeda dalam konteks propinsi SCJ Amerika, situasi bahasa, budaya, tradisi dan lingkungan yang secara ekstrem berbeda dengan Indonesia; semuanya menuntut untuk “menterjemahkan” pemahaman akan “misi bersama” ini secara lebih konkret dan membumi. Syukurlah bahwa pengalaman-pengalaman masa lalu lebih dari cukup menempa saya untuk menjadi siap akan segala kemungkinan situasi yang menuntut banyak perubahan-perubahan dan adaptasi terhadap banyak hal yang baru di tempat misi yang semula terasa asing ini.

Dalam konteks gereja dan umat di South Dakota yang menuntut suatu bentuk ‘pelayanan perdamaian’, membangun semangat rekonsisiali antar umat, antar budaya, tradisi dan kepercayaan yang memuat ketegangan-ketegangan tertentu; saya mencoba hadir sebagai orang yang diutus untuk mulai pertama-tama berdamai dulu dengan diri sendiri, masa lalu, dunia dulu dan sekarang, bahkan berdamai dengan Allah sendiri yang sering tak terpahami cara-Nya memanggil dan mengutus rasul-rasul-Nya.

Dukungan doa-doa, support dan bentuk keterlibatan apapun dari para konfrater baik di Indonesia maupun di Amerika tentu sangat saya butuhkan. Dan saya sudah merasakannya, sedang mengalaminya dan akan terus menerimanya dalam berbagai bentuk dari para konfrater sekalian. Semoga karya perutusan ini boleh menjadi salah satu bentuk juga persembahan diri saya kepada kongregasi dan gereja setempat. Semoga saya sungguh mampu menjadi pelayan perdamaian bagi dunia dan masyarakat di mana saya diutus.

Oleh: Rm. Christ. Hendrick, SCJ

Paparan Visi-Misi SCJ 2010-2013 dan Misa Perdana

Assembly (Bagian Kedua) – Masih di tanggal 26 Januari 2011, kita mengadakan assembly di Aula Rumah Retret Giri Nugraha. Beberapa hal dapat disimpulkan dari acara tersebut:

1. Visi Misi DPP SCJ Indonesia adalah arah dan tuntunan langkah kita selama tiga tahun ini. Sebagai sebuah tuntunan dan arah, visi dan misi bukanlah milik propinsial dan dewannya saja tetapi adalah milik kita. Visi dan misi menjadi penting agar kita bisa membuat langkah-langkah yang terukur sehingga pada saatnya nanti kita dapat menilai, mengkritisi, dan merefleksi secara lebih objektif. Diharapkan agar dengan refleksi yang baik, kita dapat melanjutkan rencana-rencana berikut secara lebih baik pula.

2. Visi dan misi yang telah dibuat untuk rentang tahun 2010-2013 adalah sintesa dari usulan-usulan, masukan-masukan, refleksi bersama saat assembly tahun 2010 serta harapan-harapan DPP SCJ Indonesia dan para konfrater yang juga diterangi oleh arah hidup kita sebagai kongregasi yang telah dicanangkan dalam Kapitel Propinsi maupun Kapitel Jendral yang lalu.

3. Pater Propinsial memberikan beberapa tekanan untuk beberapa hal yang terdapat dalam visi dan misi kita. Merefleksi kembali dan kemudian membuat penegasan konkrit atas spiritualitas hidup berkomunitas menjadi salah satu hal yang ditekankan di awal pemaparannya. Bagi kita, hidup berkomunitas adalah salah satu perutusan dan spiritualitas kita. Hal ini menjadi hal yang penting sekaligus harus dibangun, dikembangkan dan dijaga dalam hidup bersama kita. Langkah-langkah yang konkrit misalnya: membuat secara rutin dalam komunitas pertemuan bersama, lectio divina, doa bersama dan lainnya. Hal lain yang diusahakan adalah restrukturasi hidup berkomunitas seperti yang telah dijelaskan dalam visi dan misi.

4. Bagian penting yang lain dalam visi-misi adalah usaha dan kesanggupan kita untuk menjawab tuntutan gereja dan masyarakat setempat terhadap kebutuhan konfregasi. Salah satu yang penting yang telah, sedang dan akan kita buat adalah kesanggupan kita untuk mendukung gerakan misi Kongregasi. Dalam acara ini, Rm. Christianus Hendrick, SCJ dan Rm. Agustinus Agus Suyono, SCJ menyampaikan pengalamannya sebagai orang yang diutus berkarya di daerah misi.

Pada pukul 17.00, diadakan Misa Perdana Imam baru didampingi Diakon baru sebagai penutup rangkaian kegiatan assembly. (Sekprop, Fiat Lux – Januari 2011)

Berita dalam gambar: http://picasaweb.google.com/brgatotscj/AssemblySCJ26Januari2011#