Jumat, 20 Maret 2015

Menjadi Sobat Cilik Jesus dalam acara Dehonian Day 2015



Ana-anak peserta Dehonian Day
Hai kawan datang dan tinggalkan dukamu
Sinarilah dunia dengan hatimu
Menjadi sobat cilik Yesus
Puji dan wartakan namaNya
Dengan semangat Pater Dehon
Kobarkan semangat cinta Hati KudusNya 

Angkat suaramu dan tepuklah kedua tanganmu
Putar badanmu dan melompatlah bersamaku
Cobalah lihat kiri kananmu itu semua sahabatmu
Sampaikanlah semangat cinta HatiNya
Melangkah, bergandeng tangan kita berseru..
Jadi sobat Yesus,...jadi sobat Yesus,...Jadi sobat Yesus

            Inilah theme song yang menjadi semangat acara Dehonian Day 2015 dalam rangka memperingati hari kelahiran Pater Dehon, pendiri kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) yang diselenggarakan di komunitas Postulat-Novisiat SCJ St. Yohanes, Gisting. Acara ini diikuti dan dimeriahkan oleh 8 kontingen anak-anak  BIA dan Sekami dari paroki Gisting yaitu stasi Batu Keramat, stasi Wonosobo, stasi Sumberejo, stasi Simpang Kanan, lingkungan Paulus 1, lingkungan Yohanes, lingkungan Don Bosco, lingkungan Fransiskus dan 3 kontingen dari luar paroki ini,yaitu paroki Kalirejo yang mengirim 2 kontingen dan Stasi Panutan (Paroki Pringsewu) dengan jumlah peserta sekitar 500-an anak dan pendamping. Turut hadir para Dehonian muda (YDC) lampung yang membuat suasana menjadi lebih berwarna. 
Lomba paduan suara
            Dalam kongregasi SCJ, tanggal 14 Maret atau yang biasa dinamakan Dehonian Day merupakan hari doa untuk panggilan. Untuk itu, Dehonian Day (Hari Dehonian) menjadi hari panggilan khusus untuk SCJ dan menjadi kesempatan untuk mengadakan aksi panggilan dengan mengemban semangat atau spiritualitas Dehonian. Komunitas Postulat-Novisiat menggunakan momen berharga itu dengan mengadakan acara temu anak-anak BIA dan SEKAMI dengan tujuan untuk memberikan pengalaman iman akan Tuhan dalam diri anak melalui perjumpaan dan kegembiraan satu dengan yang lain, secara khusus juga untuk menanamkan benih-benih panggilan dalam diri anak-anak Katolik karena merekalah yang nantinya akan menjadi penerus dan masa depan Gereja.  
            Acara temu anak-anak BIA dan SEKAMI ini mengusung tema besar yaitu “Menjadi Sobat Cilik Jesus”. Seperti dalam pengantar yang disampaikan oleh ketua panitia acara, mengharapkan semua yang hadir bisa merasakan persaudaraan dan memperoleh banyak sahabat. Romo Yohanes Rasul Susanto,SCJ yang membuka acara Dehonian Day 2015 secara resmi juga berharap agar dari sekian banyak perserta ini ada banyak yang terpanggil menjadi romo, suster, bruder atau menjadi orang Katolik yang baik.  
Acara Dehonian Day ini dimulai dengan berdinamika bergembira bersama di tenda utama. Pukul 09.15 para peserta mulai berhamburan dari tenda utama menuju pos-pos lomba yang diadakan dalam acara Dehonian Day. Panitia menyelengarakan beberapa jenis lomba untuk mengasah kemampuan dan bakat anak-anak serta untuk menumbuhkan keberanian dalam berliturgi seperti lomba Mazmur, lektor, vocal group. Ada juga lomba yang bertujuan untuk mengenalkan pribadi Pater Dehon dan semangat hidupnya seperti lomba Kuis Dehonian. Ada juga Kategori umum yang memacu kerja sama dalam kelompok seperti lomba kuliner bagi pendamping, pecah balon bagi anak-anak dan berburu sahabat.  
Setelah mencurahkan banyak tenaga dan pikiran dalam lomba-lomba, para peserta dihibur dengan penampilan-penampilan menarik, kreatif dan unik dalam lomba Dehonian Dance. Sorak-sorai dan teriakan membahana memberikan semangat baru. 
Seluruh rangkaian acara ini ditutup dengan perayaan Ekaristi bersama yang dipimpin oleh Rm. Yohanes Ngatijan,SCJ bersama 4 Romo Konselebran. Romo F.X Joko Susilo,SCJ atau yang biasa dipanggil Romo Lilo yang mempunyai perawakan besar dan suara yang menggelegar ini menyampaikan kotbah dengan penuh semangat sehingga dapat membuat suasana menjadi lebih hidup dan bergairah. “Jadilah seorang sahabat yang mampu mengenali kebaikan teman, jadilah Sahabat Cilik Yesus dengan mau mengasihi Tuhan dan sesama serta berbalik dari kemalasan, dan jangan lupa untuk selalu memuliakan Nama Tuhan setiap hari”, ujar Romo Lilo dalam kotbah misa.
Setelah Ekaristi penutup, para peserta menanti dengan penuh harap pembagian hadiah lomba-lomba dan akhirnya kontingen Kalirejo I menjadi juara umum untuk Dehonian Day 2015 ini. Melalui acara Dehonian Day ini, semoga kerajaan Hati Kudus semakin menggema dan meraja dalam jiwa orang dan dalama masyarakat, seperti yang diharapkan oleh Pater Dehon. “DAN LES AMES ET DANS LES SOCIETES”

Oleh: Stefanus Widodo, Fr. Andreas Fajar Nugroho, Fr. Albertus Bayu Christanto (Postulan dan Novis SCJ)

Senin, 16 Maret 2015

Surat Pater Jenderal dalam rangka Ulang Tahun Pater Dehon



SUPERIORE GENERALE
CONGREGAZIONE DEI SACERDOTI
DEL SACRO CUORE DI GESรน
Dehoniani
_________________________________________________________________________



Prot. N. 0139/2015
Roma, 1 Maret 2015

Sebuah kekuatan yang menghasilkan kehidupan


Untuk para anggota Kongregasi

Semua anggota keluarga dehonian


Saudara-saudari keluarga dehonian yang terkasih,

Sekali lagi, dan untuk terakhir kalinya, kami menulis surat pada kesempatan ulang tahun Pater Dehon yaitu tanggal 14 Maret. Sebenarnya, tidak sekedar mengingat sebuah tanggal, tetapi mengenang seorang pria yang pendekatannya kepada Allah dan yang pemahamannya tentang Kerajaan Allah melahirkan gerakan yang masih hidup sampai hari ini serta yang menarik banyak orang untuk bersama-sama bergabung ke dalam keluarga dehonian: perempuan, laki-laki, anak-anak, tua-muda, orangtua, orang yang belum menikah, kaum awam dan religius. Kami ingin melihat dalam diri Pater Dehon, seuatu yang baru. Tak bisa lain kecuali terus menggali untuk mendapatkan aspek-aspek dan wawasan baru yang masih tersembunyi dari kita hingga kini. Dan hal-hal yang telah Tuhan berikan kepada kita dalam diri Rm. Dehon.


Melalui surat ini kami ingin berbagi sesuatu yang sangat penting dan yang refleksinya masih jauh dari selesai. Hal ini berlaku bagi kami, anggota Dewan Jenderal untuk semua anggota keluarga dehonian.


"Belaskasih" - ini adalah kata pertama dalam moto untuk Kapitel Jenderal kita mendatang yang akan berlangsung dari tanggal 17 Mei sampai dengan 6 Juni 2015: "Belaskasih dalam Komunitas bersama Kaum Miskin". Tema ini tidak diusulkan oleh Dewan Jenderal, tetapi oleh anggota Komisi Persiapan Kapitel Jenderal, setelah menerima saran dari para Superior Mayor dalam pertemuannya pada bulan November 2013. Awalnya, sebagai Dewan Jenderal, kami terkejut oleh usulan ini, terutama dari kata "belas kasihan". Keterkejutan itu dirasakan juga oleh banyak konfrater, bukan hanya kami. Dalam kenyataannya, kata "belas kasihan" tidak memiliki makna yang sangat signifikan dalam tulisan-tulisan dehonian. Kata tersebut tidak muncul dalam Konstitusi dan jurnal kita, Dehoniana, tidak pernah dibicarakan topik ini. Belas kasih nampaknya bukan bagian fundamental dalam spiritualitas dehonian.


Bagi kita semua tampak jelas bahwa tema belas kasihan telah menjadi milik kita dengan kekuatan yang lebih besar berkat ajaran magisterial Paus Fransiskus. Bahkan, dari hari pertama masa kepausannya, baik dengan kata-kata maupun tindakan, Paus Fransikus telah menyatakan bahwa gereja harus menjadi "Gereja yang Berbelaskasih". Dengan demikian, ia telah menyentuh banyak orang dan telah menanggapi keinginan banyak orang, baik di dalam maupun di luar gereja.


Sekarang, bagaimana dengan kita dehonian?


Pater Dehon dan Belas Kasih


Idealnya, kita memulai dengan bertanya pada Pater Dehon tentang tema ini: “apakah belaskasih menunjukkan padanya sesuatu yang signifikan?” Jika benar, apa yang mau disampaikan dari kata tersebut tentang Tuhan dan panggilan Kristiani di dunia ini? Apa konkret yang dia katakan saat ini tentang panggilan dehonian di dunia?


Pertama-tama kami terkejut saat meneliti situs www.dehondocs.it, sarana yang sangat berguna untuk mengenal pendiri kita karena menyediakan akses digital ke semua tulisa Pater Dehon, yang sedang dalam proses penerbitan. Riset online mengungkapkan bahwa Peter Dehon sering berbicara tentang belas kasihan dalam tulisan-tulisannya. [1] Ide Pater Dehon tentang belas kasihan berkembang lebih luas, tidak begitu banyak tulisan-tulisannya di jurnal tetapi dalam tulisan-tulisan spiritualnya.[2] Khususnya di meditasinya, banyak bab dengan judul belas kasih.[3] Pater Dehon biasa menerima inspirasi dari Kitab Suci. Dan kita perhatikan seberapa sering Pater Dehon menghidupi, bermeditasi dan berdoa berdasarkan Kitab Suci. Dan ini adalah salah satu kualitas khusus dari pengalaman Pater Dehon yang kita syukuri hari ini.


Melalui kisah-kisah Kitab Suci Pater Dehon juga menyampaikan pengalaman spiritualnya kepada kita. Meditasinya tidak mengandung uraian teologis atau penjelasan dogmatis, tapi mengungkapkan pengalaman spiritual yang dinamis dasarnya ditemukan dalam perjumpaan dan relasi. Kami menemukan diri kami di hadapan Allah yang penuh kasih mencari manusia. Di panggung cerita ini muncul domba yang hilang, dirham yang hilang, dan kemudian ditemukan, anak yang hilang, Zakheus, Matius, wanita Samaria, Petrus, Thomas. Bagi Pater Dehon masing-masing dari figur-figur ini, pada gilirannya, memberikan kesaksian tentang belas kasih Allah dan kemungkinan hidup baru. Allah yang berinisiatif, pergi mencari yang hilang, meninggalkan tempatNya dan orang-orang yang sangat mengenalNya untuk pergi kepada orang-orang yang tidak lagi mengenal Nya: "Tidakkah kamu tahu bagaimana seorang gembala pergi mencari domba yang hilang? Dia tidak berhenti mencari, tetapi meninggalkan yang lain, mencari di hutan, padang belantara, dan tebing. Ketika akhirnya dia menemukannya, Ia mengambil dan membawa di pundaknya. Dengan cara ini, Aku ingin memperlakukan kalian. " (RSC 292).


Menurut visi spiritual Pater Dehon, Tuhan tidak hanya pergi melihat tetapi menyambut tanpa syarat memeluk, melupakan masa lalu dan semuanya memungkinkan untuk sebuah awal baru melampaui harapan dan keterbatasan mereka yang serba mungkin. Dalam cerita ini, kita harus membayangkan dalam pikiran kita semua kegiatan ini, semua yang dihadapi, dan sukacita yang dihasilkan, jika kita benar-benar ingin memahami pengalaman Allah yang berbelas kasih seperti yang ditawarkan Pater Dehon.


Dalam tulisan-tulisan Pater Dehon, kata "Tak Terbatas" (infini) sering muncul menyertai sabda belas kasih Allah. Belas kasih ini tak terbatas dan tanpa batas, dalam ketidakmampuan dan perhatian serta kepedulian akan yang lain, demikian juga dengan keadilan, karena “Jesus memiliki hati seorang penyembuh dan hati seorang sahabat melebihi hati seorang hakim yang bengis.” (CAM 1/242).


Belas kasih tak terbatas dan tanpa batas ini membawa kita ke sumber dari belaskasih Allah, Pater Dehon sering menggambarkan sebagai "kasih yang berkelimpahan" (Exces d'amour). Baginya, kasih yang berkelimpahan ini nampak dalam salib, sengsara, dan juga peristiwa inkarnasi yang merupakan perwujudan belas kasih yang paling tertinggi. Cinta yang Berelas kasih berisi tindakan Kristus yang paling besar yakni pengosongan diri-Nya, meskipun Allah rela menjadi hamba, seperti dikatakan Rm. Dehon ketika berbicara tentang surat kepada orang Filipi. Perbendaharaan katanya bisa jadi terbatas secara teologis pada saat itu: seperti kata “Penghancuran”, “penghinaan”, “pengorbanan” yang pada waktu lebih melihat manusia secara skeptic baik segi teologi maupun rohani daripada paham yang lebih mendalam akan kasih Allah yang tak terbatas. Akan tetapi, apa yang harus beliau katakan tinggal tetap pada saat guru rohani mengingatkan kita akan sebuah kenyataan bahwa teologi mesti harus menangkap kembali; “tidak ada bentuk keilahian lain akan Allah yang  jauh lebih besar, yang Kitab Suci jabarkan lebih dari belas kasihNya”. (RSC 72)


Dengan berlalunya waktu, teologi telah mengambil langkah lebih lanjut: belas kasih Allah dapat dipahami hanya jika berakar dalam teologi Tritunggal.[4] Allah Tritunggal, Bapa, Anak, Roh Kudus, dalam dirinya sendiri terdapat komunikasi dan relasi. Esensinya adalah persembahan diri yang tak terbatas pada yang lain. Karena itu, belas kasihan menjadi cermin dari Trinitas.


Dari perspektif trinitaris, belaskasih berasal dari permulaan dunia, berasal dari akar dan sebuah realitas ciptaan. [5] Sehingga, belas kasih dalam ciptaan, dalam penjelmaan, penderitaan dan kebangkitan bukan hanya sebuah tanggapan Allah akan dosa dunia. Belas kasih melebihi semuanya, meneruskan kenyataan dan berbagi keberadaan-Nya sebagai bentuk pemberian diri bagi yang lain.


Rm Dehon menyadari bahwa belas kasih yang demikian tidak hanya tanggapan atas dosa dunia tetapi juga sebuah ekspresi fundamental akan Allah Bapa. Dalam beberapa meditasi, beliau menggambarkan cinta dan belas kasih Allah menolong manusia, khususnya mereka yang menderita, mereka yang sakit dan menyatakan bahwa kasih yang berkelimpahan adalah kelahiran baru dan daya pembaharuan, kemampuan untuk mengadakan mukjizat, penyembuhan dan pengampunan: “Sumber belas kasihNYa, mukjizat-mukjizat-Nya, pertolongan-Nya; dan belarasa yang menyuburkan kita. Belarasa menggerakkan-Nya. Memaksa-Nya untuk mengadakan mukjizat, Dia melihat mereka yang sakit, dan hati-Nya tergerak oleh belaskasihan dan menyembuhkan mereka. Jika kita memiliki hati yang berbelarasa seperti hati Yesus bagi mereka yang tidak beruntung, jika kita menanggapi secara spontan menurut kehendak sang Penyelamat yang belas kasih, mengapa kita tidak menjadi alat-Nya untuk turut menjadi penyembuh?” (CAM 1/234).


Namun bagaimana kita bisa berhasil secara tepat, dalam berpartisipasi akan keilahian yang dinamis ini, dalam kasih berkelimpahan yang melahirkan hidup baru? Tanggapan Rm. Dehon sungguh mengejutkan, karena begitu sederhana dan melampaui jamannya; kepercayaan. Merujuk pada tulisannya; “Meditasi ini (pada kepercayaan), bagian akhir dari retret ini, sangatlah penting dan merangkum semuanya. Jika seseorang mempraktekkan latihan yang disarankan, dia mengapai semuanya. Namun bila tidak, retret tidak akan membuahkan apa-apa” CAM1 256.  Dengan cara ini, Rm Dehon memperkenalkan belas kasih pada meditasi yang terakhir. Percaya akan cinta dan belas kasih; merupakan satu-satunya syarat untuk masuk dalam sebuah dinamika belas kasih.


Tanggapan kedua Pater Dehon adalah: ; “kita perlu menghubungkan antara rahmat dan tindakan pada inisiatif kita, mewujudkan belaskasih pada sesama kita” (RSC 318). Pater Dehon dan tradisi spiritualitas Hati Kristus menyebutnya "redamatio," yaitu ‘cinta yang memulihkan’, bahkan mencintai atas nama orang-orang yang menolak untuk mencintai. Belaskasih meminta seseorang untuk hidup dalam praktik pemberian diri.


Tentunya kita masih harus banyak belajar untuk lebih memahami tentang belas kasihan. Kita perlu untuk memperdalam dan memperluas soal nilai belas kasih dengan penuh hormat sehubungan dengan karisma dehonian.


Belaskasih Dalam Komunitas Bersama Kaum Miskin


Di tengah-tengah motto untuk Kapitel Jendral yang akan datang, bulan Mei / Juni 2015, kita menemukan komunitas bukan belas kasih. . Sebuah komunitas yang kita sadari sebagai panggilan kita; di dalamnya, panggilan kita mewujud untuk pertama kalinya; dari komunitas kita diutus ke berbagai bentuk kerasulan


Pusat komunitas dalam motto, mengandung dua hal; belaskasih sebagai kualitas dan kemiskinan sebagai tempat pelayanannya.


Apakah belaskasih merupakan sebuah kualitas yang menjadi ciri komunitas kita? Dengan pertanyaan ini kita merujuk baik kepada komunitas dehonian maupun untuk banyak kelompok yang terinspirasi oleh karisma dehonian. Pertanyaan itu pertama-tama mengarah pada sebuah kenyataan dan kesaksian hidup kita bersama, sejauh kita sebagai Dehonian Sungguhkah ada kasih berkelimpahan yang diwujudkan dalam pemberian diri kita bagi yang lain? Pelayanan kita, persembahan diri kita, kesiapsediaan kita, rekonsiliasi kita dimulai hanya ketika kita pergi keluar dari biara kita, dari rumah tempat tinggal kita? Jika kita sungguh memahami belaskasih menurut tradisi kita, cara hidup bersama kita menjadi pewartaan cinta dan belaskasih yang membuat kualitas hidup baru menjadi mungkin melampaui tembok-tembok budaya, kebangsaan, karakter dan dosa.


Dan kemudian, setelah mengalami belas kasih Allah, kita harus menuju ke pada orang-orang miskin.


Belas kasih bukanlah pemanis atau peneydap rasa yang naif. Mereka yang mengalami cinta dan belas kasihan Tuhan tidak dapat tidak mesti menjadi alat kasih ini, terutama di tempat-tempat di mana kehidupan terancam, ditekan, terbatas, luka. Faktanya bahwa 100 tahun yang lalu, Fr. Dehon melibatkan diri - meskipun harus terpisah dari saudara-saudarinya – mewakili dimensi sosial kongregasi kita bukanlah hasil dari pertimbangan politik maupun kewajiban moral. Ketrlibatan Itu adalah sebuah tanggapan. Tanggapan terhadap cinta yang terungkap di kayu salib sebagai sumber kehidupan dan kemenangan atas setiap kematian.


Dengan hormat dan sukacita yang mendalam, kita melihat bagaimana pria dan wanita dalam keluarga dehonian secara terus menerus menggambarkan inspirasi mereka yang sungguh digerakkan oleh belaskasih, dan siap untuk keluar ke tengah hiruk pikuk kehidupan social, sebagaimana Paus Fransiskus sarankan. Di zaman seperti kita, kita berhadapan dengan beban kekerasan yang tak terbayangkan, siapa yang dapat meragukan bahwa dunia membutuhkan belaskasih, atau jika kita menggunakan Bahasa Dehonian, siapa yang dapat meragukan bahwa dunia membutuhkan  kerajaan Hati Yesus?


Pada permulaan surat ini, secara sederhana kami menulis bahwa kami ingin berbagi dengan kalian apa yang secara perlahan-lahan muncul ditengah-tengah kita; sebuah aspek baru dalam pengalaman rohani yang menandai kata dan tindakan Pater Dehon; sesuatu yang  memperkaya bagi panggilan Dehonian kita, sembari mengenang kelahiran Pater Dehon dengan penuh syukur.


Akhir Kata


Ini adalah surat terakhir yang ditujukan kepada Anda oleh Dewan Jenderal, yang dipilih pada Kapitel tahun 2009 dipilih untuk memimpin kongregasi. Dalam enam tahun terakhir kami telah dipanggil untuk menjaga warisan yang ditinggalkan Pater Dehon. Ini telah menjadi kehormatan bagi kami selama periode ini untuk membuka harta karun tulisan Pater Dehon untuk seluruh dunia yang lebih luas dengan menerbitkan secara online. Kapitel yang ke XXII telah meminta kami untuk menaruh perhatian pada Pribadi Kristus sebagai pusat hidup kongregasi. Kristus adalah rahmat yang telah kita terima, rupa Allah yang telah mengosongkan diri (Fil 2,8), dan yang membagikan hidup kita dan mewahyukan kemampuan yang besar untuk kasih melalui lambung yang terbuka.


Kami mohon kalian untuk berdoa bagi kongregasi, terutama selama kapitel jenderal. Kapitel merupakan saat yang istimewa bagi kongregasi. Kapitel menjadi sebuah tanda akan apa yang kita ketahui menjadi nyata pada saat yang tepat. Saat dimana kita percaya bahwa Roh Yesus lebih aktif dalam diri kita. Ini adalah saat untuk melihat masa depan, menuju suatu saat dimana kata-kata kita menjadi penuntun jalan kita enam tahun ke depan. Berkumpulah dalam komunitas dan berdoa bagi kami mulai tanggal 17 Mei-6 Juni.


Tanggal 14 Maret juga merupakan hari doa untuk panggilan. Marilah kita berdoa bagi orang-orang yang akan segera menjadi bagian dari keluarga dehonian. Kita mohon pada Tuhan agar hidup mereka diperkaya oleh iman dalam kasih Allah bagi mereka. Mari kita mohon, agar karisma dehonian selalu menjadi sebuah panggilan yang membuat banyak orang terus mengikuti. Mari memperteguh kepercayaan bahwa apa yang Pater Dehon renungkan tentang lambung yang tertikam, tentang Kitab Suci sebagai pusat dan rahmat belaskasih, menjadi pemberian hidup yang tidak hanya bagi jiwa kita tapi juga lingkungan dimana kita hidup.


Untuk seluruh keluarga dehonian, kami mengucapkan selamat mengenang dengan penuh kebahagiaan hari lahir Pater Dehon.


Dalam Hati Yesus.


                                                                              P. Josรฉ Ornelas Carvalho, SCJ

                                                                                        Superior Jenderal

                                                                                          Dan Dewannya






[1] tema "belas kasihan" muncul dalam dehondocs  808 kali. Dilihat dari frekuensi tampaknya jauh lebih sedikit daripada "cinta" (3980x), "dosa" (1951x); namun lebih sering daripada kata-kata "pengorbanan" (405x) dan "persembahan" (185x). Diakses  3 Februari 2015.

[2] Les couronnes d’amour (CAM), La retraite du Sacrรฉ-Cล“ur (RSC), L’annรฉe avec le Sacrรฉ-Cล“ur (ASC)

[3] “The Heart of Jesus is All Love and Mercy” (CAM 1). “Mercy of the Heart of Jesus for Sinners” (CAM 1). “The Mercy of Our Lord Invites us to Return to His Love” (RSC). “On the Mercy of God” (RSC). “Conversion of St. Peter through the Profound Mercy of the Heart of Jesus” (RSC). “Heart of Jesus, Patient and Very Merciful” (MSC).

[4] Walter Kasper, Mercy-The Essence of the Gospel and the Key to Christian Life. NY: Paulist Press. 2014. Especially V, 2: Mercy as Mirror of the Trinity.


[5] Walter Kasper, Misericordia, p. 150s.

Sabtu, 28 Februari 2015

Purna Tugas Pak FX. Suhartono dan Pak B. Mardi Atmoko


Rm. Madya, Pak Moko, dan Pak Hartono
Tanpa terasa 24 tahun untuk Pak Hartono dan 23 tahun untuk Pak Moko dalam memberikan pengabdian dan pelayanan bagi Kongregasi SCJ telah berlalu. Selama kurun waktu yang tidak singkat itu, kedua karyawan Propinsialat SCJ telah mengalami suka dan duka bersama, penuh dengan rasa syukur. Tidak hanya mereka berdua yang merasakan namun juga seluruh anggota SCJ ikut merasakan dan mengungkapkan rasa syukur atas pengabdian dan pelayanan mereka.
 
Tanggal 12 Februari 2015 secara resmi mereka mengalami masa pensiun, dengan upacara yang sederhana dihadiri oleh Pater Propinsial SCJ dan beberapa anggota DPP, serta anggota komunitas Propinsialat SCJ kedua saudara ini dilepas untuk memasuki masa pensiun. 

(Kiri ke kanan) Agus, Br. gatot, dan Aris
Dalam kata sambutannya Pak Moko demikian panggilan akrabnya, menuturkan bahwa hidupnya selama ini sebagai karyawan SCJ karena belas kasihan dari tidak mempunyai apa-apa hingga bisa memiliki tempat tinggal dan mampu membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya. Demikian juga dengan pak Hartono yang setia menjadi supir Romo Propinsial, yang telah melayani banyak Propinsial SCJ dan menghantar dengan selamat dalam tugas perutusan pater propinsial mengunjungi anggotanya. Pada kesempatan ini juga diangkat sumpah kepala sekretariat Propinsi dan stafnya Br. Gatot SCJ, Agustinus Suwanto, serta staf ekonomat Christina Ayu Ristanti.

Dalam kata sambutannya, Pater Propinsal SCJ, Rm. Andreas Madya SCJ mengucapkan banyak terima kasih atas pelayanan Pak Hartono dan Pak Moko yang telah melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan dalam diam. Mereka berdua telah melaksanakan tugasnya dengan baik dan menjaga menjaga sumpah jabatan mereka. Pater Propinsial mengharapkan agar tangguang jawab dan kometmen mereka diteruskan oleh penggantinya dengan menjaga sumpah jabatan yang telah diucapkan.

Jumat, 23 Januari 2015

“Ambilah aku menjadi milikMU” Prasetya Kekal Br. Antonius Sugeng Parwoto SCJ



Pagi itu di Gereja Stasi Emmanuel Ngawen lebih rame dari biasanya, bahkan kesibukan umat telah nampak beberpa minggu sebelumnya dengan adanya doa novena setiap Mingguuntuk kaul kekal seorang bruder SCJ yang berasal dari stasi itu. Dan hari itu tepatnya tanggal 18 Januari 2015 umat stasi Ngawem Paroki Muntilan punya hajatan dengan diadakannya peristiwa yang luar biasa bagi umat Ngawen. Bahkan bapak Saptandio ketua panitia Perayaan Kaul Kekal Bruder Antonius Sugeng Parwoto SCJ tidak kuasa menahan haru saat harus menyampaikan sambutannya di akhir perayaan tersebut.



Br. Sugeng, demikian biasa dipanggil, adalah putra dari Stasi Ngawen Paroki Muntilan. Putra dari pasangan Bapak Paulus Muh Awal dan ibu Chatarina Kartinah ini berkeinginan untuk selalu setia melayani bahkan dalam hal-hal kecil meski tidak diperhatikan dan dikenal orang lain. Dengan menjadi bruder dia berharap keinginan tersebut dapat terwujud. 

Setelah mengalami perjalanan yang penjang dalam menghayati panggilan sebagai seorang bruder SCJ, akhirnya anak bungsu dari dua bersaudara ini memberanikan diri untuk mengikhrarkan kaul kekalnya. Motto yang dipilihnya adalah “Ambilah aku menjadi milikmu.” (Kel. 34:9). Motto ini senantiasa menyadarkan bruder lulusan D3 PIKA Semarang ini akan penyertaan dan cinta Tuhan yang begitu besar dalam lika-liku panggilannya, maka dengan penuh kepasrahan bruder yang bekerja di bengkel kayu Seminari St. Paulus Palembang ini memberikan dirinya bagi Tuhan dan sesama.


Perayaan Ekaristi dalam rangka kaul kekal bruder Sugeng SCJ dipimpin sendiri oleh Pater Propinsial SCJ, Pater Andreas Madya Sriyanto SCJ dan didampingi RP. FX. Tripriyo Widarto SCJ dan RP. Yohanes Subagyo SJ. Tentu saja para bruder SCJ Indonesia hadir mendukung saudara bungsu mereka yang mengikharkan kaul kekal serta para Imam dan Suster dari beberapa kongregasi ikut mendukung peristiwa sakral ini. Perayaan Ekaristi menjadi semakin sakral dengan iringan musik orkestra dari mahasiswa ISI Yogyakarta dan kelompok paduan suara umat setempat. 

Suasana desa yang akrab dan penuh persaudaraan juga nampak kental pada acara ini, khususnya acara ramah tamah dan santap siang bersama. Menu makan siang yang dikemas dengan sederhana namun sangat mengesan dengan ‘pincukan’ (red: menggunakan daun pisang sebagai tempat makan) dan menu desa yang khas yang menggugah selera serta dihibur dengan orgen tunggal dengan irama-irama campur sari dan tembang-tembang populer lainnya.

Senin, 12 Januari 2015

Temu Akbar Formator SCJ Indonesia 2015


        Situasi dan kondisi jaman ini sungguh memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap komitmen anak muda dalam menanggapi dan menghayati panggilan. Dunia modern yang memberikan tawaran-tawaran menarik serta kemudahan-kemudahan membuat anak muda jaman ini kurang memiliki daya juang yang cukup kuat untuk berkomitmen terhadap panggilan.
        Memahami secara jernih dan mendalam para formandi sebagai produk anak jaman ini kiranya merupakan tuntutan mendesak dan penting untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri sebagai formator. Pada saat yang sama, secara cermat dan serius perlu juga ditemukan langkah-langkah kongkrit yang perlu diambil untuk memperbaiki sistem dan proses formasio yang telah berjalan selama ini, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Lebih dari itu, mengingat kompleksitas permasalahan yang harus dihadapi, kekuatan dan keterbatasan yang beragam dalam setiap pribadi formator penting dan mendesak pula untuk memikirkan pula hal-hal konkrit yang dapat mengembangkan semangat kerja di antara para formator sebagai tim baik yang bersifat intra entitas maupun antar entitas.

         Beranjak dari keprihatinan dan sekaligus tantangan yang diberikan oleh dunia jaman ini, maka maka pertemuan akbar formator scj Indonesia kali ini mengambil tema: MEMAHAMI FORMANDI SEBAGAI ANAK JAMAN. Pertemuan 2 tahunan ini mengambil tempat di Biara Gembala Baik (BGB) Gisting, Lampung dan dilaksanakan dari tanggal 6 sampai dengan 8 Januari 2015. Pertemuan kali ini dihadiri oleh Pater Propinsial SCJ, Rm. Andreas Madya Sriyanto SCJ, dan formator dari Skolastikat, Novisiat-postulat, Seminari, Pembimbing Penpas dan TOPPer, serta koordinator Bruder dan koordinator promotor panggilan.
        Dalam Misa Pembukaan pertemuan, Rm. Priyo SCJ sebagai supervisor komisi formasio mengatakan pentingnya para formator memiliki ‘sepatu’ yang sama yaitu metode yang tepat dan sama untuk membantu para formandi berkembang sesuai dengan jamannya. Rektor skolastikat SCJ Yogyakarta ini juga mengingatkan bahwa formator utama adalah Roh Kudus, sehingga para formator harus senantiasa menyatukan diri dengan Roh Kudus sebagai formator utama.

       Rm. Yulius Sunardi SCJ menyoroti tentang komitmen panggilan, faktor-faktor komitmen, dan serta insignts bagi formator, khususnya bagi formandi sebagai anak jaman ini. Doktor Psikologi Klinis yang baru lulus ini juga memberikan masukan mengenai gap generation, bahwa ternyata gap generatian itu penting dan diperlukan bagi formasio. Yang pelaing penting adalah Seberapa jauh formator harus kembali ke titik berangkat seorang formandi, sehingga keduanya (sebagai formator-formandi) berjalan bersaman untuk mencapai titik yang ditargetkan.
        Dalam masukannya, Pater Propinsial, Rm. Andreas Madya SCJ menyoroti pentingnya formator untuk memahami formandi sebagai anak jaman. Maka formator scj harus membimbing formandinya dengan hati. Karena bagaimanapun Formandi bukanlah seperti selembar kertas kosong atau sebongkah tanah lempung, mereka sudah memiliki bentuk dan isi sesuai dengan jaman mereka dan mereka dipanggil oleh Allah. Pater Propinsial juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi oleh propinsi Indonesia khususnya keterlibatan SCJ Indonesia di dunia internasional. 
 
        Akhirnya Pertemuan Akbar formator ini menghasilkan beberapa rekomendasi, baik untuk Provinsi SCJ Indonesia, bagi komisi formasio itu sendiri maupun bagi formator di setiap jenjang formasio. Pertemuan ditutup perayaan ekaristi bersama dengan komunitas postulat dan novisiat di kapel Postulat-Novisiat.




Foto-foto bisa di lihat di: https://plus.google.com/photos/111270483211043858584/albums/6103258173027568273